Tampilkan postingan dengan label Bohemian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bohemian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2008

Sampai Jumpa, “Magical Mystery Tour”….. Selamat Datang kembali, REALITA





Gedung (kapal) serbaguna, KM. TILONGKABILA GILA! kapal perekat indonesia!

Sebulan penuh sudah kami melancong mengunjungi Nusa Tenggara. Mencoba mengenal segalanya lebih dekat,bahkan mengenal teman perjalanan sendiri lebih dekat. Dan hari yang tak ingin dinanti pun harus kami temui. Pulang… haruskah? Memang berat unutk pulang, tapi kami bukan penanam pohon uang yang bisa berkelana seenak jidat kami saja tentunya. Perjalanan ini akan diakhiri dengan menumpang kapal Pelni yang bernama Tilongkabila.

Kapal ini menjadi pertemuan terakhir kami dengan segala ke-simpang-sengkarut-an (saya suka kata ini) Transportasi di Indonesia, walaupun sebetulnya kami masih menumpang truk menuju Jember dan mengendarai kereta ekonomi dari Surabaya Menuju Jakarta, tapi karena semua itu sudah saya ceritakan . Setidaknya benar bila saya katakan bahwa Kapal Laut merupakan pilihan tepat untuk mengakhiri perjalanan ini.

Kapal Tilongkabila, sama seperti kebanyakan kapal milik Pelni lainnya yang tidak hanya melayani satu tujuan saja tapi melewati beberapa pelabuhan di sepanjang Nusantara. “Kapal Nusantara” begitu saya dan Tonte menyebutnya. Karena kapal ini yang, kalau saya tidak salah, memulai perjalanan nya dari Benoa (Bali) hingga Sorong (Papua). Karena itu kami becanda bahwa kapal ini membawa misi lain selain mengantar penumpang, yaitu misi persatuan. Mempersatukan rakyat Indonesia dari berbagai daerah ke dalam satu wadah dimana mereka tidak bisa lari karena dikelilingi binatang laut karnivora dari selat Malaka hingga laut Aru.



terimakasih Pelni untuk merekatkan Indonesia!


Lemas rasanya ketika pertama kali melihat kapal itu muncul di depan mata kami. Ratusan orang yang saling bertumpukan di dek kapal ditambah lagi ratusan (atau mungkin ribuan?) orang-orang yang menunggu untuk turut menumpang kapal itu menuju Lembar atau Benoa. Setidaknya detik itu kami langsung membayangkan di kepala kami bagaimana posisi tidur kami nanti di kapal, bagaimana kondisi WC di kapal itu (setelah WC itu melacurkan dirinya pada ratusan orang di kapal itu), hingga masalha sepele antara akan berdiri atau dudukkah kita nanti.

Sesiap apapun kami dengan kegilaan yang sudah kami perkirakan sebelum berangkat pun rasanya tidak membuat rasa dag-dig dug-duer kami hilang begitu saja melihat pemandangan I depan kami. terasa seperti sinetron yang sering melebih-lebihkan dan tak bisa ditebak jalan ceritanya. Adegan pertama dari Sinetron ini adalah perebutan tahta (baca : tempat meletakan pantat dalam arti harafiah) yang dilakukan dengan beringas oleh para penumpang yang merasa berhak memiliki tahta2 itu. Dan gilanya mereka melakukan itu ketika penumpang lainnya sedang berusaha unutk turun dengan membawa oleholehuntukkampunghalaman yang berukuran tidak, sekali lagi SANGAT TIDAK ,kecil ukurannya. Belum lagi para pedagang.

Entah karena sudah terbiasa, atau kerena terpaksa, mereka dengan mudah nya melempar lempar barang-barang itu ke arah penumpang yang berusaha, memaksa tepatnya, naik sebelum waktunya. Kocar-kacir seperti kaca yang tertimpa batu dari atas, begitulah kira-kira kondisi para penumpang yang tertimpa barang-barang tersebut. Kami? menunggu sampai semuanya tenang.toh kami terbiasa untuk tidak duduk di kursi dan tidur di kasur.


"Simpang Sengkarut"

Setelah sekitar tigapuluh menit kami berhasil masuk dan kami mengambil salah satu tempat kosong di luar kabin untuk meletakan barang kami, setidaknya ada angin disana. Untuk sekedari informasi, mungkin kondisis di dalam saat itu (berbeda ketika kapal berangkat dari Lembar keesokannya) tak lebih baik dari kamp penampungan non-aria yang dibuat oleh Nazi pada jaman perang dunia ke dua. Ratusan manusia betumpukan pada sebuah papansedikitempuk tanpa ventilasi yang baik, tumpukan sampah yang menggunung di tong sampah dan kamar mandi yang sudah kami duga melacurkan diri pada siapa saja yang ingin melepas hajat.

kapal itu akhirnya berangkat dan kami memasuki babak ke dua dari sinetron kami yaitu, makan malam. Dari pengeras suara kapal itu kami mendegar bahwa makan siang bagi kami, penumpang kelas ekonomi, bisa segera di ambil di pantri segera saja di otak saya terlintas loket pembagian BLT yang saya lewati tadi dalam perjalanan menuju dek kapal. Dan benar disana lah kai mengambil makan malam kami. bersama para penumpang ekonomi lainnya kami menuju ke Pantri di mana kami disana berbaris seperti videoclipanother brick in the wall” oleh Pink Floyd. Menunggu untuk mengambil jatah ransum kami. Dan ternyata menu hari itu dan juga menu, besok pagi, dan besok siang nya adalah sekitar 4 suapan nasi (ukuran tangan saya) sebuah ikan kembung kecil yang kadang sudah tak berkepala, dan sejumput sayur kubis dingin. “kayanya sih, kata yang udah pernah, enakan makan di penjara, bunuh orang yuk”, terucap begitu saja dari mulut saya. Saya sendiri tidak tahu makan di penjara seperti apa sebetulnya. Ohya, untuk makan pagi si ikam kembung merubah wujud nya menjadi seonggok telur dadar ukuran 3x5 centimeter yang mungkin komposisi nya 9:1 antara tepung dan telurnya.


Pembagian BLT

Tak habis pikir saya bagaimana mereka bisa bertahan untuk hanya makan makanan seperti ini.mungkin mereka juga memilih alat transportasi ini karena mereka tak sanggup membeli tiket eksekutif kapal itu yang harganya mungkin dua hingga tiga kali lipat nya, apalagi sebuah tiket pesawat yang memiliki enam angka nol unutk satu orang dari wilayah timur Indonesia menuju Pualu lainnya. Yah, ayam goreng tepung ala kentaki pun tersedia dengan harga 10ribu rupiah di kantin begitu juga dengan kudapan dan kopi-kopian tapi mungkin itu bukan juga pilihan untuk mereka.

Babak kedua ditutup Malam ituketika kami memutuskan untuk menyeruput beberapa gelas kopi dan segera tidur dengan sedikit cipratan-cipratan air dari samping kapal.malam itu tidur kami,setidaknya say, cukup nyenyak. Tidur itu pun harus berakhir ketika kami dbangunkan oleh para petugas pembersih dan panggilan makan pagi (makan pagi? Atau lebih baik saya sebut racunseribunestapapembawaduka a la kho ping ho?).

Kamera, rolling, action! Adegan ketiga di mulai.Beberapa jam setelah makan pagi kami merapat di Pelabuhan Lembar. Semakin banyaknya penumpang yang turun di pelabuhan tak membuat kapal ini tersana lenggang. Dan sampah yang diturunkan di pelabuhan itu membuat saya kagum, karena setidaknya say abisa memperkirakan berapa jumlah penumpang dari kapal tersebut, tak kurang dari seribu kepala! Dari atas saya mempaerhatikan para petugas melempar sampah-sampah itu ke dermaga dimana sebiah truk sampah sudah menunggu dan tentunya, pemlung-pemulung kecil yang mengais sampah itu unutk sekedar tambahan uang jajan.


memperbaiki pintu rusak sampah



"pacar?3000km lagi..."

Rasa bosan yang berkepanjangan dan Sedikit penasaran dengan kapal ini saya kemudian berkeliling. Itu pun di pancing dengan panggilan a la bioskop 21 yang mengatakan bahwa pemutaran filmhari itu akan segera dimulai “sebuah film drama-dewasa hollywod berjudul something gotta give akan segera diputar di bioskop tilongkabila limabelas menit ke depan”. Hmm, menarik juga..tapi tenyata itu hanya satu-nya film bagus yang diputar selama perjalanan saat itu. Film selanjutnya yang menyusul adalah “hantu si jembatan ancol” dan “hantu ambulans” (ngomong-nogmong, turut berduka cita atas meninggalnya suzanna sang ratu horror pemakan melati kebanggaan Indonesia, tanggal 16 september 2009. Semoga arwahnya segera bangkit dan menjadi ahntu pertama yang di kontrak unutk bermain film dan berperan sebagai hantu. Ditunggu comeback-nya!). Dengan lima ribu rupiah anda diijinkan menonton bioskop dengan kursi a la kadarnya.

Di depan bioskop yang berkapasitas sekitar sepuluh orang itu saya melihat satu hiburan lagi berupa Playstation 2 yang disewakan dengan harga lima belasribu rupiah per jam nya, dan pastinya menjadi rebutan anak-anak di Kapal itu. Sempat terpikir untuk bermain tetapi harus diurungkan ketika saya sadar bahwa kelihatannya kurang bijak, dewasa, dan gagah bilah saya harus bertengkar, atau kemungkinan besar merampas, mainan itu dari anak-anak yang masih berumur sama dengan adik saya sendiri (6-8 tahun).

festival film horror terapung dan playstation

Perngamatan dilanjutkan dengan bertemunya saya dengan beberapa penjual arloji dan perhiasan yang mangkal di bordess (istilah kereta, entah apa namanya di kapal laut) antara kabin yang satu dan kabin yang lain. Dan untuk barang dagangan yang pasaranya sebetulnya tidak sebesar makanan dan minuman mereka terlihat cukup menikmati pasar yang mereka buat sendiri itu. Untuk yang satu ini saya tidak mengabadikannya karena panasnya suhu ruangan itu karena minimnya ventilasi yang berpengaruh pada mudahnya putusnya urat sabar seseorang. Dan saya, entah kenapa, sedang malas untuk bersenda-gurau seperti biasa untuk lebih mengenal mereka. Mungkin sedikit anti klimaks dari perjalanan ini. Tentunya kemalasan ini saya sesali kemudia di Jakarta.

Tak lama kemudian saya melihat seorang ABK yang sedang marah kepada seorang penumpang yang ternyata membawa ayam hidup di dalam karung dan diletakan di dalam kapal, bukan pada bagian dek. Yang menyebabkan bau yang……..yah, kalian pasti tahu lah.

Lelah berjalan-jalan dan jam menunjukan pukul dua belas siang, yang berarti sebentar lagi kami akan merapat di Benoa. Setelah melewati perjalanan yang tak kalah panjangnya menuju gilimanuk. Menumpang truk dengan - bayaran sebungkus rokok - menuju Jember -untuk mencicipi martabak terang bulan Jember yang harus bersaing dengan terang bulan londo (Pizza HUT yang baru dibuka di Jember)-. Dan tak boleh dilupakan kericuhan selama delapan belas jam di dalam kuda besi “gaya baru malam selatan”.




Martabak Terang bulan Lokal dan terang bulan "londo"


perbedaan Harga

Akhirnya savana terik dan langit biru sumbawa; lumba-lumba yang berlompatan di Flores; dan sawah-sawah hijau di jawa timur, tengah, dan barat yang biasa kami lihat di jendela , yang kadang tanpa kaca, kendaraan tumpangan kami harus bertransformasi menjadi onggokan sampah di samping gedung beton, perumahan di pinggir rel, kemacetan penuh makian dan pastinya langit abu-abu khas Ibukota. Berakhirnya sbeuah perjalanan seringkali membuat kami lemas karena harus menghadapi rutinitas-rutinitas seperti biasanya lagi. Tetapi mengutip Steven Tyler dalam lagunya Amazing yang mengatakan “life is a journey, not a destination”, kita bisa berpretensi pada diri kita sendiri untuk tetap menjalani sebuah perjalanan lainnya, perjalanan kehidupan. Segala yang kami dapat dari perjalanan ini tentunya sangat berpengaruh pada perkembangan hidup kami setelahnya.


Kembali ke kenyataan

SAMPAI JUMPA PADA PERJALANAN BERIKUTNYA

VIVA LA VIE BOHEME!!!!!



i do not choose to be a common man, it is my right to be uncommon.. -Thomas Paine- "entepreneur's Credo"

Jumat, 12 September 2008

Desa Naga, Pelaut, dan Parabola




Membunuh Waktu di Atas Losmen Terapung

Pagi itu masih seperti pagi-pagi yang lain dalam perjalanan kami. Matahari , dan kicauan burung masih menjadi alarm bagi kami. Para penduduk yang lalu-lalang melakukan rutinitasnya mengganggu tidur nyenyak kami. Hanya ada satu hal yang berbeda yaitu tempat tidur kami yang berayun-ayun tanpa henti semalaman. Mungkin karena malam itu kami menumpang tidur di atas kapal milik penduduk Desa Komodo. Kapal penduduk bermuatan 20-30 orang itu menjadi tempat berteduh kami hari itu.

Sebagai bangsa Indonesia kita pasti tahu apa itu Komodo, reptilia terbesar yang masih hidup. Kita pun tahu bahwa binatang iniadalah satwa endemik yang hanya hidup di Indonesia. Dan kita tahu bahwa binatang ini adalah salah satu objek wisata yang paling dicari oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Tak sedikit orang yang rela merogoh kocek nya untuk melihat hewan pemakan bangkai ini. Dari mengikuti jasa pelayanan tur yang menggunakan kapal pesiar, hingga mereka yang menyewa kapal untuk pergi ke pulau yang yang terletak tak jauh dari lepas pantai Flores ini. Kala itu kami ingin mencoba cara lain.

Keterbatasan dana merupakan kelemahan kami. Sedangkan keleluasaan waktu adalah kekuatan kami. Itulah yang menjadi perhitungan kami untuk melakukan perjalanan ini. Sesampainya di Labuhan Bajo, pelabuhan di Barat Flores, kami ber-lima langsung membagi-bagi tugas. Beberapa mencari Informasi untuk transportasi menuju Pulau Komodo, dan sisanya mencari bahan makanan di Pasar. Kebetulan saya mendapat tugas unutk mencari transportasi.
Dari data-data dan informasi yang kami dapatkan, kami mengetahui bahwa untuk mencapai Pulau Komodo adalah dengan meenggunakan jasa Travel atau men-carter kapal di pelabuhan. Dari awal opsi untuk menggunakan jasadari agensi perjalanan sudah kami coret dari daftar. Tentunya kami tidak akan mampu membayar biaya yang rata-rata disiapkan untuk turis asing itu.

Awalnya kami mencoba untuk bersosialisasi dengan beberapa turis asing unutk memperingan biaya penyewaan kapal namun karena ketidakcocokan waktu membuat kami harus membatalkan rencana itu. Saya pun teringat akan desa Komodo. Salah satu dari sekian banyak desa yang ada di dalam kawasan Taman nasional, bahkan sebelum taman nasional itu berdiri. Dan benar, kami akhirnya menemukan kapal penduduk yang akan pulang ke Pulau Komodo. Dengan biaya yang jauh lebih murah kami pun bisa menyebrang ke Pulau Komodo. Losmen terapung pun telah disiapkan untuk kami. Kapal yang akan kami tumpangi itu akan berangkat keesokan paginya dan kami diijinkan untuk menginap di Kapal tersebut.



Memperbaiki Kapal


Losmen terapung

Kapal baru akan berangkat keesokan paginya dan kami punya waktu seharian di Labuhan Bajo. Waktu yang kami gunakan untuk membeli perbekalan yang akan kami butuhkan di pulau komodo. Malam itu pun kami mendapatkan tempat menginap yang cukup sensasional. Kapal penumpang yang akan kami gunakan untuk menyebrang ke Pulau Komodo esok.

Setelah kami berbicara dengan sang Nahkoda kami pun mengetahui bahwa Kapal itu ternyata milik aah dari Siti Hajar, salah eorang teman dari Ditto yang dulu bersekolah di Bima. Dan Hajar yang akan bersekolah di Mataram baru saja satru minggu yang lalu pulang ke desa Komodo. Ha! Setidaknya kami sudah memiliki tempat menginap di sana. Toh, sebenarnya tanpa hajar pun kami kemungkinnan akan mencoba menginap di rumah Kepala desa.

Malam itu kami bisa menikmati makan malam hasil tangkapan kami sendiri. Laut yang jernih mengijinkan semua orang , bahkan yang awam terhadap kegiatan memeancing pun bisa mendapatkan ikan (dengan catatan saya tidak berhasil menangkap satupun).Ikan Sencara yang paling banyak kami tangkap menjadi salah satu camilan yang paling sering kami makan. TANGKAP SENDIRI, OLAH SENDIRI, MAKAN SENDIRI. Dan semboyan D.I.Y kami pakai disini.


Tangkap...

Olah....


masak lalu Makan!


Pagi berikutnya, sekitar pukul 10 pagi, kapal berangkat dan perjalanan memakan waktu lima jam. Dan hari itu tenryata kami tidak bisa mendapat tempat untuk berteduh karena bagian dalam kapal itu diprioritaskan untuk ibu-ibu, anak-anak, karung-karung beras, dan kerupuk. Karena itu Kami berlima dan beberapa pemuda lainnya terpaksa terjemur seperti ikan asin di atas Kapal penumpang tersebut.

kapal mulai memuat barang-barang belanjaan para penduduk. Mereka terpaksa harus membeli bahan pangan di darat (penduduk yang tinggal di pulau biasa disebut orang pulo) karena tidak adanya perkebunan di wilayah Desa Komodo yang merupakan salah satu bagian dari Taman nasional komodo. Taman Nasional sebagai media konservasi tentunya tidak bisa mengijinkan pembuatan lahan pertanian yang kemungkinan besar akan mengganggu habitat dari Komodo itu sendiri.selain itu tradisi penduduk desa yang mata pencahariannya mencari ikan juga mempengaruhi tidak adanya lahan pertanian di desa Komodo.


Shopping madness! Dijemur!

Di atas kapal dalam Perjalanan menuju desa kami dibuat terkagum-kagum oleh pemandangan yang disajikan oleh alam kepada kami. Bukit-bukit tua yang engingatkan kita pada film Lord of the Ring, Lumba-lumba dan penyu yang berenang bebas di sekitar perahu Dimulai dari dua ekor elang yang berkelahi dengan seekor elang lainnya layaknya pesawat Spitfire Inggris yang harus berjuang melawan mustang Nazi dalam Battle of Britain. Penyu dan Lumba-Lumba yang melompat bebas bersama Pari Manta di sekitar kapal tumpangan kami, panorama yang indah dan kawasan budidaya rumput laut disajikan berturut-turut kepada kami.


Elang melayang menembus awan


penyu dan Lumba-lumba saling timbul dan tenggelam


dan camar membelah angkasa..
(sayang sang manta tak terabadikan)


Budidaya Rumput Laut Panorama


Tiba di desa






Selamat datang di desa nelayan

Desa Komodo sendiri merupakan desa kecil yang hanya dihuni sekitar 1300-an penduduk. Mayoritas mata pencaharian mereka adalah nelayan. Dan terlepas dari penampilan rumah mereka yang ala kadarnya tingkat kemakmuran para penduduk ,yang diperoleh dari hasil penangkapan ikan, sangatlah baik. Mungkin itu sebabnya hampir di setiap rumah yang rata-rata berdindingkan papan kita bisa melihat parabola terpajang di depannya. Mungkin ini semua hanya masalah prioritas saja.

Selain mencari ikan para penduduk juga memiliki pekerjaan sambilan yaitu membuat patung replica Komodo dari yang berukuran 20 centi meter hingga berukuran sama dengan Komodo Dewasa. Para pembuat patung ini mulai berkerja apabila Bulan Purnama dimana mereka sulit unutk mendapatkan ikan. Patung-patung ini dijual dengan harga yang bervariasi, dari duapuluh ribu rupiah sampai tiga juta rupiah.


Pengrajin Patung

Listrik yang hanya mengaliri desa ini dari pukul enam sore hingga dua belas malam pun menjadi sebuah keuntungan dan kerugian tersendiri bagi penduduknya. Setidaknya bagi saya sendiri melihat anak-anak bermain di luar rumah bersama-sama merupakan nilai postif. Hal yang tentunya sangat berbeda dengan keadaan di perkotaan besar dimana anak-anak tidak bisa hidup tanpa televisi dan permainan elektronik. dan kami pun sempat menikmati camilan udang rebon, asam yang dicampur jadi satu.

Bermain di Luar Rumah

camilan udang rebon

Dari berbagai sumber di desa akhirnya kami mengetahui bahwa hanya lima orang saja, dari seluruh penduduk desa Komodo, yang berkerja untuk Taman Nasional Komodo (TNK). Hal ini mungkin dikarenakan kurang memenuhinya syarat penduduk desa untuk bisa berkerja di TNK. Jumlah pemandu disana tidak terlalu banyak dan minimnya kalangan terdidik di desa ini sangatlah rendah. Hal ini yang mungkin menjadi pertimbangan bangi TNK mengapa mereka tidak memiliki pegawai dari Desa Komodo.

Karena sejauh pengelihatan saya hanya ada satu bangunan SD di desa itu dan SMP yang berada satu gendung dengan SD tersebut. Dan dari hasil pembicaraan dengan pak kades kami mengetahui bahwa hanya ada tiga orang sarjana saja di Desa tersebut.
Hal ini jugalah yang seringkali menimbulkan pertentanganan di antara penduduk desa dan TNK. TNK yang berusaha mengkonservasi wilayah tersebut dengan peraturan (yang sebetulnya baik , mis : pelarangan penggunaan racun dan bom, perburuan rusa liar, dll) sering kali bersinggungan dengan Masyarakat yang merasa dikekang walaupun mereka hidup disana sejak jaman nenek Moyang mereka. Seringkali mereka merasa dibatasi dalam usaha-usahanya untuk bertahan hidup.


Iconic creature Desa Parabola

Menuju Taman Nasional Komodo




Taman Nasional Komodo

Keesokan hairnya kami berangkat ke pintu masuk TNK, Loh Liang. Musim kawin Komodo pada saat itu membuat kami tidak bisa melihat komodo di sekitar desa karena mereka bersembunyi. Dan rasanya kurang tenang bagi batin kami bila belum melihat binatang ini secara langsung di habitat asli nya. Kami pun menyusuri pantai selama kurang lebih satu jam dari desa untuk mencapai Loh Liang.
Di sana kami bertemu dengan beberapa rombongan wisatawan asing yang gagal melihat “Ora”, begitu komodo disebut di sana, yang sedang bersembunyi. Dan kejadian itu sempat membuat kami gelisah.


Tongkat yang digunakan pemandu untuk menghalau Komodo

Setelah bertemu dengan Mas Herman, penduduk desa yang berkerja di TNK yang diperkenalkan oleh pak kades, kami pun diajak berjalan berkeliling untuk mencari Komodo. Sedikit cerita bahwa seorang backpacker harus memiliki social skill yang tinggi karena mereka biasa masuk kedaerah yang notabene bukan daerah wisata. Toh, walaupun TNK merupakan daerah wisata,social skill kami berguna disini. Karena dengan modal senyuman manis para penjaga mengijinkan kami masuk tanpa perlu membayar biaya retribusi.

Kami akhirnya berjalan-jalan bersama para staf dari taman nasional yang sedang beristirahat karena kamilah grup turis terakhir yang masih ada disana.
Rasa putus asa pun sempat menghampiri kami ketika seekor ‘ora’ yang sangat besar lari ketika kami baru menyadari keberadaannya. Rasa putus asa itu akhirnya hilang ketika seekor ora lain menghampiri dan tidur di dekat tempat kami beristirahat. “ seumur hidup baru dua kali saya mengantar orang dan dihampiri komodo. Dan saat itu para wisatawan membayar tiket masuk”, canda mas Herman.

Kebetulan Komodo itu baru saja makan dan mencari tempat untuk tidur. “dia gak bakal gerak lagi sampe besok pagi”, kata mas herman karena itulah kami puas sekali melakukan sesi fotografi dengan binatang legendaris itu. Dan si “komo” pun mendukung dengan menggelegg-gelengkan kepala dan mengedap-ngedipkan mata nya.


yang pertama kabur yang kedua gila popularitas


Dia datang seakan tak peduli pada kami

Dan setelah puas melakukan sesi foto kami pun pulang ke desa dan bersiap-siap untuk pulang. Dan kebetulan kami pulang saat air laut mulai surut dan memperlihatkan terumbu-terumbu karang di tepi pantai yang timbul karena surut nya air laut dan beberapa penduduk yang mengumpulkan kerang untuk dijadikan Souvenir. Dalam perjalan kali ini, seperti perjalanan lainnya kami melihat banyak hal dan dengan semakin banyak kami melihat hal-hal baru, kepekaan dan sensitifitas kami makin terlatih. Dan dua hal itu lah yang membuat kami semakin mencintai Negara ini. Karena untuk mencintai Indonesia tidak mungkin tanpa mengenali. Dan unutk mengenali kita harus mengenal dari dekat masyarakat yang ada di dalamnya, bukan?


"Kami" pencari kerang





Terumbu karang yang terjebak oleh surut nya pantai



beberapa satwa lain di TNK (santapan para komodo juga)



(dua foto panorama oleh Fikri M.A)



Rocker Goat, "Rock n Roll is EVERYWHERE!

i do not choose to be a common man, it is my right to be uncommon.. -Thomas Paine- "entepreneur's Credo"